Badminton Para: Klasifikasi Atlet Dan Aturan Bermain

para badminton klasifikasi

Para-badminton is a sport adapted for people with disabilities. It is divided into five sectors, namely men's singles, women's singles, men's doubles, women's doubles, and mixed doubles. What sets para-badminton apart from regular badminton is the classification of players according to their disabilities. The sport has six classes, including two wheelchair classes (WH), two standing classes for lower-body disabilities (SL), one standing class for upper-body disabilities (SU), and one class for athletes with short stature (SH). Each class has specific rules and adaptations to accommodate the athletes' disabilities.

Characteristics Values
Number of classes 6
Wheelchair classes WH1, WH2
Standing Lower classes SL3, SL4
Standing Upper classes SU5
Short Stature class SH6
T/F classes T/F11, T/F/12, T/F13, T/F20, T/F51-57, T/F61-64
Height requirements for men <145 cm
Height requirements for women <137 cm

shunwild

Klasifikasi SL3 dan SL4: untuk atlet dengan gangguan pada kaki dan keseimbangan

Parabadminton adalah olahraga bulu tangkis yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas. Sama seperti bulu tangkis pada umumnya, parabadminton dibagi menjadi lima sektor: tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Yang membedakan parabadminton dengan bulu tangkis biasa adalah pengklasifikasian kelas yang disesuaikan dengan keterbatasan atlet. Ada enam kelas pertandingan di parabadminton, yaitu dua kelas kursi roda (WH), dua kelas berdiri untuk disabilitas bagian bawah (SL), satu kelas berdiri untuk disabilitas bagian atas (SU), dan satu kelas untuk atlet bertubuh pendek (SH).

Kelas SL3 dikhususkan bagi atlet yang memiliki keterbatasan pada salah satu atau kedua kaki dan memiliki gangguan keseimbangan saat berjalan atau berlari. Atlet di kelas ini bermain dengan berdiri seperti biasa dan diperbolehkan menggunakan bantuan kaki palsu atau kaki pasangan. Untuk nomor tunggal, kelas SL3 menggunakan setengah lapangan penuh, sedangkan untuk ganda, menggunakan lapangan penuh. Hampir mirip dengan kelas SL3, kelas SL4 juga ditujukan bagi atlet dengan keterbatasan pada salah satu atau kedua kaki. Namun, atlet di kelas ini memiliki keseimbangan yang lebih baik daripada atlet kelas SL3 saat berjalan atau berlari. Atlet di kelas ini juga diperbolehkan menggunakan bantuan kaki palsu atau kaki pasangan. Area permainan di kelas SL4 menggunakan satu lapangan penuh baik untuk nomor tunggal maupun ganda, dengan peraturan yang sama dengan bulu tangkis pada umumnya.

shunwild

Klasifikasi SU5: untuk atlet dengan keterbatasan pada bagian atas tubuh, seperti tangan

Para-badminton adalah cabang olahraga bulu tangkis yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas. Sama seperti bulu tangkis pada umumnya, para-badminton dibagi menjadi lima sektor: tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Yang membedakan para-badminton dengan bulu tangkis biasa adalah pengklasifikasian kelas yang disesuaikan dengan keterbatasan atlet. Ada enam kelas pertandingan di para-badminton, yaitu dua kelas kursi roda (WH), dua kelas berdiri untuk disabilitas bagian bawah (SL), satu kelas berdiri untuk disabilitas bagian atas (SU), dan satu kelas untuk atlet bertubuh pendek (SH).

Klasifikasi SU5 diperuntukkan untuk atlet dengan keterbatasan pada bagian atas tubuh, seperti tangan yang digunakan untuk bermain atau tangan yang tidak digunakan untuk bermain. Atlet di kelas ini mungkin memiliki gangguan ringan pada tangan, seperti jempol yang hilang, yang memengaruhi pegangan dan, karenanya, kekuatan pukulan. Mereka juga mungkin memiliki gangguan yang lebih parah pada lengan yang tidak digunakan untuk memegang raket, yang memengaruhi keseimbangan, perputaran badan, dan kemampuan untuk melakukan servis. Atlet di nomor ini bisa memiliki keterbatasan berupa amputasi lengan atau lengan yang tidak berfungsi akibat kerusakan saraf.

Atlet yang bertanding di kelas SU5 memiliki perawakan pendek. Untuk postur pendek laki-laki, tinggi saat berdiri kurang dari 145 cm, panjang lengan 66 cm, dan jumlah dari tinggi dan panjang lengan kurang dari 200 cm. Sedangkan untuk postur pendek perempuan, tinggi saat berdiri kurang dari 137 cm, panjang lengan kurang dari 63 cm, dan jumlah dari tinggi dan panjang lengan kurang dari 190 cm.

Di Indonesia, atlet para-badminton SU5 antara lain adalah Dheva Anrimusthi, Hafizh Briliansyah Prawiranegara, Suryo Nugroho, Arya Sadewa, dan Oddie Kurnia Dwi Listianto Putra. Sementara itu, Warining Rahayu adalah atlet putri SU5.

Atlet SU5 bermain di lapangan penuh dengan peraturan yang sama dengan bulu tangkis pada umumnya, baik di sektor tunggal maupun ganda.

shunwild

Klasifikasi SH6: untuk atlet dengan tinggi badan lebih pendek dari umumnya

Klasifikasi SH6 diperuntukkan bagi atlet para-bulu tangkis dengan tinggi badan lebih pendek dari umumnya, yang disebabkan oleh kondisi genetik atau lainnya. Untuk postur pendek laki-laki, tinggi badan saat berdiri kurang dari 145 cm, panjang lengan 66 cm, dan jumlah dari tinggi dan panjang lengan kurang dari 200 cm. Sementara untuk postur pendek perempuan, tinggi badan saat berdiri kurang dari 137 cm, panjang lengan kurang dari 63 cm, dan jumlah dari tinggi dan panjang lengan kurang dari 190 cm.

Atlet di kelas SH6 memiliki keterbatasan postur tubuh, tetapi tidak ada area permainan khusus untuk kelas ini. Baik di sektor tunggal maupun ganda, atlet SH6 menggunakan area permainan yang sama dengan area permainan bulu tangkis pada umumnya. Peraturan permainan di kelas SH6 juga tidak berbeda dengan permainan bulu tangkis pada umumnya.

Indonesia menurunkan sejumlah atlet di klasifikasi SH6 pada ASEAN Para Games 2022. Pada bagian putra, ada Dimas Tri Aji dan Subhan. Sementara untuk putri, ada Rina Marlina dan Yunia Widya Irianti.

Klasifikasi SH6 termasuk dalam enam kelas pertandingan di para badminton, yaitu dua kelas kursi roda (WH), dua kelas berdiri untuk disabilitas bagian bawah (SL), satu kelas berdiri untuk disabilitas bagian atas (SU), dan satu kelas untuk atlet bertubuh pendek (SH).

shunwild

Klasifikasi WH1: untuk atlet dengan gangguan fisik pada bagian bawah tubuh dan menggunakan kursi roda

Parabadminton merupakan cabang olahraga bulu tangkis yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas. Sama seperti bulu tangkis pada umumnya, parabadminton dibagi menjadi lima sektor: tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Yang membedakan parabadminton dengan bulu tangkis adalah pengklasifikasian kelas yang disesuaikan dengan keterbatasan atlet. Ada enam kelas pertandingan di parabadminton, yaitu dua kelas kursi roda (WH), dua kelas berdiri untuk disabilitas bagian bawah (SL), satu kelas berdiri untuk disabilitas bagian atas (SU), dan satu kelas untuk atlet bertubuh pendek (SH).

Kelas WH1 diperuntukkan bagi atlet yang memiliki gangguan fisik serta fungsi gerak tubuh pada bagian kaki atau badan bagian bawah. Sesuai namanya, para atlet di kelas ini menggunakan bantuan kursi roda dalam bermain. Untuk area permainan di kategori tunggal, WH1 hanya menggunakan setengah lapangan. Namun, jika bola jatuh di garis kotak servis, maka dianggap keluar. Tak jauh berbeda dengan nomor tunggal, di nomor ganda kelas ini, bola yang jatuh di area kotak servis juga dianggap keluar. Namun, di sektor ganda menggunakan satu lapangan penuh.

Kelas WH2 hampir sama dengan WH1. Kedua kelas ini sama-sama berkompetisi dengan kursi roda. Perbedaannya terletak pada derajat disabilitas. Kelas WH2 ditujukan bagi atlet yang memiliki keterbatasan di bagian bawah atau kaki, tetapi dengan fungsi gerak tubuh bagian atas yang lebih baik daripada atlet WH1.

Kelas SU5 ditujukan bagi atlet yang mengalami gangguan pada anggota gerak bagian atas. Baik di sektor tunggal maupun ganda, area permainan yang digunakan dalam kelas ini sama dengan area permainan bulu tangkis pada umumnya. Peraturan permainan di kelas SU5 juga tidak berbeda dengan permainan bulu tangkis pada umumnya.

Kelas SH6 diperuntukkan bagi atlet yang memiliki keterbatasan postur tubuh. Atlet pada kelas ini memiliki tinggi badan yang lebih pendek dari manusia pada umumnya karena kondisi genetik atau yang lainnya. Meskipun atlet di kelas ini memiliki postur tubuh yang lebih pendek, tidak ada area permainan khusus untuk kelas ini. Baik di sektor tunggal maupun ganda, mereka menggunakan area permainan yang sama dengan area permainan bulu tangkis pada umumnya.

shunwild

Klasifikasi WH2: sama seperti WH1, tetapi atlet WH2 memiliki fungsi gerak tubuh bagian atas yang lebih baik

Parabadminton is a sport that is adapted for people with disabilities. It is divided into the same five sectors as regular badminton: men's singles, women's singles, men's doubles, women's doubles, and mixed doubles. The main difference between para-badminton and regular badminton is the classification system, which groups athletes according to their disabilities.

The classification system in para-badminton consists of six classes. Two of these classes are for wheelchair users (WH1 and WH2), two are for athletes with lower-body disabilities (SL3 and SL4), one is for athletes with upper-body disabilities (SU5), and one is for athletes with short stature (SH6).

WH2 athletes, like WH1 athletes, use wheelchairs during play. However, WH2 athletes have better upper body movement than WH1 athletes. WH2 athletes may have limited or no impairment in their upper bodies, but they have impairments in one or both legs.

In singles matches, WH1 athletes play on half a court, whereas WH2 athletes play on a full court. In doubles matches, both WH1 and WH2 athletes play on a full court without a front service line.

Frequently asked questions

There are six classifications in para badminton, each with a two-letter code:

- Wheelchair 1 (WH1) – for athletes with disabilities in their legs or lower body who use wheelchairs

- Wheelchair 2 (WH2) – similar to WH1, but with better upper body movement

- Standing Lower 3 (SL3) – for athletes with disabilities in one or both legs, affecting their balance when walking or running

- Standing Lower 4 (SL4) – similar to SL3, but with less severe disabilities and better balance

- Standing Upper 5 (SU5) – for athletes with disabilities in their arms or upper body

- Short Stature 6 (SH6) – for athletes with a shorter stature due to genetic or other reasons.

Classifications in para badminton are determined by classifiers from the BWF (Badminton World Federation). The classifications are based on the athletes' disabilities and are designed to ensure fair competition.

Para badminton is divided into five sectors, similar to regular badminton:

- Men's singles

- Women's singles

- Men's doubles

- Women's doubles

- Mixed doubles

The rules for each classification in para badminton vary. For example, in the WH1 classification, athletes play on a half court in singles matches, while in the SL3 classification, athletes play on a full court in singles matches. In general, the rules for the SU5 classification are the same as for regular badminton.

Written by
Reviewed by

Explore related products

Share this post
Print
Did this article help you?

Leave a comment